Behind the Myth, Pameran Lukisan Indonesia di AKTO Athens, 21-25 Oktober 2013

DSC_0072

Mitologi dari berbagai daerah di Indonesia yang sangat beragam membuahkan inspirasi kepada 4 (empat) pelukis dari kelompok Jago Tarung Yogyakarta. Dari mitos-mitos di daerah Basemah, Sumatera Selatan, legenda yang terkenal di tanah Jawa yaitu Jaka Tarub, karya epos La Galigo dari Sulawesi Selatan sampai dengan mitos keseharian seperti tokek, diterjemahkan oleh para pelukis kedalam 20 karya lukis kontemporer. Kedua puluh karya tersebut saat ini sedang dipamerkan di ruang galeri Sekolah Tinggi Seni dan Disain AKTO, Athena sejak 21 Oktober 2013 sampai dengan 25 Oktober 2013. Kegiatan pameran ini terselenggara berkat kerjasama KBRI Athena, Sekolah Tinggi Seni dan disain AKTO, kelompok Jago Tarung Yogyakarta dan mendapat dukungan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI serta Museum Tekstil Jakarta.

Pembukaan pameran lukisan dengan tema “Behind the Myth” dilakukan pada 21 Oktober 2013 di ruang galeri AKTO. Acara pembukaan dihadiri oleh sekitar 100 undangan yang terdiri dari para pelukis, pemerhati seni, friends of Indonesia dan para murid dan dosen AKTO. Acara diawali dengan tarian Bali Belibis yang dibawakan oleh 2 (dua) penari. Selanjutnya Direktur Pemasaran Sekolah Seni dan Disain AKTO menyampaikan bahwa pihaknya telah sangat menantikan pameran ini karena hasil karya pelukis Indonesia jarang dapat dinikmati di Yunani. Karya lukis yang dipamerkan sangat menarik untuk dipelajari karena para pengunjung dan terutama para murid sekolah AKTO nantinya dapat mempelajari dua hal sekaligus yaitu cerita mitologi Indonesia dan teknik melukis para pelukis Indonesia.

DSC_0126

Wakil dari grup Jago Tarung menyampaikan apresiasi kepada pihak-pihak yang telah membantu terlaksananya kegiatan pameran ini. Pameran ini merupakan yang pertama dilakukan oleh kelompok ini di luar negeri, sedangkan di Indonesia kelompok ini telah melakukan 6 kali pameran. Wakil dari KBRI Athena menyampaikan penghargaan kepada AKTO dan kelompok Jago Tarung atas kerjasamanya hingga pameran ini dapat berlangsung. Diharapkan pameran lukisan ini dapat memperkenalkan Indonesia dari sisi karya lukis dan dapat menjadi jembatan pemahaman budaya Indonesia bagi masyarakat Yunani.

Acara ditutup dengan penampilan tarian Piring oleh 4 (empat) penari Indonesia. Selesai acara sambutan, para tamu terlihat berkeliling menikmati koleksi lukisan Behind the Myth sambil menikmati makanan kecil khas Indonesia seperti kue talam, kue lapis dan lumpia. Para tamu terlihat terus berdatangan bahkan sampai dengan usainya jam pameran pada 10 malam.

Kelompok Jago Tarung yang didirikan pada tahun 2010 terdiri dari 4 orang pelukis yaitu Syis Paindow, Zam Kamil, Tomy Faisal Alim, dan Dedy Sufriadi. Keempat pelukis merupakan lulusan dari sekolah tinggi seni rupa ISI Yogyakarta dan IKIP Makasar.

DSC_0162
Untuk pameran di Yunani, pelukis Syis Paindow membawa 5 buah lukisan yang berangkat dari legenda Nya Roro Kidul, Dewi Sri, Jaka Tarub, Tato Borneo dan Borobudur. Beraliran realis-surealisme, lukisan Syis Paindow berusaha menangkap kehidupan sebagai sebuah potret sosial yang dipenuhi perspektif dan ragam soal.
Pelukis Zam Kamil yang sudah selama empat tahun terakhir mengangkat epos I La Galigo ke atas kanvasnya. Pada pameran ini, pelukis yang sengaja menghilangkan detil-detil pada figurnya, sehingga kadang tidak jelas jenis kelaminnya, membawa 6 lukisan yang berupa penggalan fragmen epos I la Galigo, dari turunnya Batara Guru hingga I We Cudai in the land of China.

Mitos-mitos seputar Besemah, sebuah daerah di Sumetra Selatan, dicoba diterjemahkan oleh pelukis Dedy Sufriadi ke dalam 5 karya lukisan. Pelukis beraliran abstrak ekspresionis ini, menuangkan detil mitos ke dalam bentuk-bentuk simbolik dan secara umum lukisannya mendekati gaya ungkap anak-anak yang naïf, esoteric dan bebas nilai. Mitos Besemah merupakan asal usul suku daerah di sekitar Besemah.

Sementara Tomy Faisal Alim, pelukis kelahiran Jakarta, mencoba menterjemahkan mitos yang ada di kehidupan sehari-hari ke dalam karyanya seperti Tokek dan Semar. Selain itu, pelukis beraliran ekspresionis ini, juga mengangkat keunikan motif-motif ragam hias ornamen Nusantara. Pada pameran ini, pelukis Tomy membawa 4 lukisan.
Menurut manajer grup, Dedi Yuniarto, Pemilihan Yunani sebagai tempat pameran didasarkan pada fakta bahwa Yunani dan Indonesia memiliki kesamaan sebagai tempat yang memiliki banyak mitologi yang telah ada sejak jaman dahulu.

Sebelum menggelar Behind the Myth di Athena, kelompok Jago Tarung Yogyakarta memulai rangkaian pameran dengan event pendahuluan bertajuk the Myth is in our Pocket di Cemara 6 Galeri, Jakarta. Pameran mengetengahkan 19 karya dua dimensi. Sebagai kelanjutan dari pameran di Athena, akan dilaksanakan pameran penutup pada akhir tahun 2013 di Jakarta.

Kegiatan ini diselenggarakan di AKTO, sebuah sekolah tinggi seni dan disain yang mempunyai kampus di Athena dan Thessaloniki, 2 (dua) kota terbesar di Yunani. AKTO yang telah menjadi anggota dari CUMULUS, asosiasi internasional untuk sekolah tinggi seni, juga merupakan salah satu dari 100 universitas seni dan disain di Eropa untuk tahun 2013. Pada akhir pembukaan pameran, pihak AKTO kembali menawarkan berbagai kerjasama pameran lainnya termasuk pameran foto Indonesia.

Athena, 23 Oktober 2013