Indonesian Cultural Night Hipnotis Penonton Publik Yunani

tari Neng Centhil
Tari Neng Centhil

Teater terbuka Dora Stratou yang setiap malamnya menjadi tempat pertunjukan tarian tradisional Yunani, pada 3 September 2013 sejenak berubah menjadi panggung pementasan tarian dan musik tradisional Indonesia yang dibawakan oleh tim tari London School Public Relations (LSPR) Jakarta. Bertemakan “Indonesian Cultural Night, A journey to witness Indonesia Rich and Diverse Culture”, event yang diselenggarakan oleh KBRI Athena ini merupakan bagian dari perayaan HUT ke-68 Kemerdekaan RI.

Pementasan tujuh tarian tradisional Indonesia dibuka dengan penampilan tari Neng Centhil. Acara dirangkaikan dengan tari Pakarena yang mendapat tepuk tangan meriah dari 700 penonton yang hadir karena beragam gerakan dengan kipas yang sangat menawan. Tari muda mudi Japin Marindu Kasih menutup segmen pertama pertunjukan.

Grup Angklung KBRI Athena yang terdiri dari staf KBRI dan masyarakat Indonesia tampil membawakan lagu Burung Kaka Tua dan Ta Pedia Tou Pirea. Begitu menyadari bahwa lagu kedua adalah lagu khas Yunani, penonton yang hadir langsung bertepuk tangan dan tanpa dikomando menyanyikan bersama lirik lagu tersebut sampai selesai. Tim angklung yang baru terbentuk pada awal tahun 2013 ini berhasil memikat penonton, sehingga ketika pembawa acara mengadakan kuis dengan hadiah instrumen angklung, para penonton sangat bersemangat mengacungkan tangan untuk menjawab dan mendapatkan hadiah. Pertanyaan-pertanyaan umum sekitar Indonesia berhasil dijawab dengan baik dan benar oleh penonton masyarakat Yunani.

PAkarena
Tari Pakarena

Sesi kedua diawali dengan penampilan tari pergaulan Maluku, Gaba-gaba yang menggunakan bambu sebagai properti tarian. Kekompakan para penari Gaba-gaba disusul dengan gemulainya gerakan para penari Putri Enggang. Diiringi secara lansung oleh petikan alat musik khas Kalimantan, Sampek, para penari kembali membuat penonton terpana dengan keragaman budaya Indonesia.

Tarian Piring Cupak dan instrumentalia lagu-lagu Indonesia berupa Manuk Dadali, Ondel-ondel dan Indonesia Pusaka merupakan rangkaian selanjutnya dari penampilan apik 28 penari dan pemusik LSPR.

angklung 2
Angklung

Sebagai puncak dan penutup acara adalah tari Saman yang berhasil menghipnotis penonton. Setiap akhir rangkaian gerakan tari Saman mendapat tepuk tangan yang hangat dan pujian “bravo” dari para penonton yang tak beranjak sama sekali selama satu setengah jam pertunjukan. Para penonton yang menyaksikan pementasan budaya Indonesia mengagumi keragaman tarian yang ditampilkan, sudah kembali menanyakan jadwal kegiatan budaya yang akan dipentaskan selanjutnya. Dari tahun ke tahun KBRI mencatat kecenderungan peningkatan antusiasme masyarakat Yunani untuk menghadiri acara budaya yang diadakan oleh Indonesia. Kantor walikota Agia Varvara yang terletak di barat kota Athena harus menyewa bis untuk membawa 75 masyarakatnya yang sangat antusias ingin menyaksikan pementasan tari dan musik Indonesia.
Selain itu penonton Yunani, para wisatawan yang sedang berlibur musim panas di Athena menyaksikan pentas tersebut, mengingat lokasi teater yang terletak di kaki bukit Philopappou, berseberangan dengan Acropolis, lokasi pariwisata yang paling terkenal dan banyak dikunjungi.

Penampilan grup LSPR merupakan penampilan terakhir di Yunani dalam rangkaian lawatan 2 (dua) minggu grup LSPR ke Yunani. Sebelumnya grup ini mengikuti 51st Lefkas International Folklore Festival pada 18-25 Agustus 2013 di pulau Lefkada dan berhasil mendapatkan juara umum ketiga. Grup LSPR kemudian berpartisipasi pada 3rd Earthdancers Festival yang diadakan di Athena pada 26 Agustus sampai 2 September 2013.

saman

Keikutsertaan grup LSPR ke Yunani mendapatkan dukungan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI dan The International Organization of Folk Art (IOV) Youth Section Indonesia.

Athena, 4 September 2013